Skip to main content

PASUKAN HAMZAH BIN ABDUL MUTAHLIB, PASUKAN PERTAMA UMAT ISLAM \

Hamzah bin Abdul Muthalib radhiallahu 'anhu adalah bapa saudara Nabi ﷺ. Ia juga menjadi saudara sesusuan Nabi kerana sama-sama disusui oleh Tsuwaibah, budak dari Abu Lahab bin Abdul Muthalib. Kemudian di masa Islam, Hamzah memimpin pasukan pertama kaum muslimin menuju wilayah Saef al-Bahr.
Izin Berperang
Merupakan kebiasaan orang-orang Quraisy bertandang ke Syam untuk melakukan perdagangan. Dalam perjalanan pulang-pergi ke Syam, kafilah Quraisy membawa serta tokoh-tokoh dan sebahagian pasukan untuk menjaga mereka. Siapa sangka, jalur dagang menuju Syam yang biasa mereka lalui sekarang telah menjadi negeri hijrahnya Muhammad ﷺ dan sahabat-sahabatnya. Tentu Nabi ﷺ dan para sahabat punya urusan tersendiri dengan mereka.
Nabi ﷺ memandang ini adalah sebuah kesempatan. Beliau merancang untuk memintas mereka. Menyita barang-barang dagangan berharga yang mereka bawa. Melemahkan dan menghina mereka. Sebagai balasan atas permusuhan dan peperangan yang mereka kobarkan sejak di Mekah. Mereka men…

Allah Memuliakanku dengan Kematian Mereka


KETIKA umat Islam bersiap dan mengira jumlah pasukan menghadapi Perang Qadisiyah, saat itu pula al-Khansa bersama empat orang anak lelakinya siap berangkat bersama pasukan berjumpa dengan pasukan Parsi.

Dalam sebuah kemah di tengah ribuan kemah lain, al-Khansa mengumpulkan keempat putranya.Ia berwasiat, "Anak-anakku, kalian memeluk Islam dengan penuh ketaatan dan berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang hak kecuali Dia, sungguh kalian terlahir dari ibu yang sama. Aku tidak pernah mengkhianati ayah kalian.

Tak pernah mempermalukan paman kalian. Tak pernah mempermalukan nenek moyang kalian. Dan tak pernah pula menyamarkan nasab kalian. Kalian semua tahu balasan besar yang telah Allah siapkan bagi seorang muslim dalam memerangi orang-orang yang kafir. Ketahuilah (anak-anakku), negeri yang kekal itu lebih baik daripada tempat yang fana ini. Allah Ta'ala berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung." (QS: Ali Imran | Ayat: 200).

Andaikata esok kalian masih diberi kesihatan oleh Allah, maka perangilah musuh kalian dengan gagah berani, mintalah kemenangan kepada Allah atas musuh-Nya. "

Ketika sinar pagi telah terbit, kedua pasukan pun bertemu.Gugurlah orang-orang yang ditakdirkan gugur. Dan mereka yang ditakdirkan hidup, akan tetap hidup walaupun berangkat mencari kematian.

Usai peperangan, al-Khansa mencari kabar tentang putra-putranya.Kabar syahid anak-anaknya sampai kepadanya. Ia berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap Rabku mengumpulkanku bersama mereka dalam kasih sayang-Nya. "

KETIKA Raja Faisal memutuskan bekalan minyak ke negara-negara Barat mengalami krisis minyak pada Oktober 1973, beliau melontarkan kalimat yang terkenal dan menggegarkan dunia.



"Kami dan nenek moyang kami telah mampu bertahan hidup hanya bergantung kepada kurma dan susu, dan kami akan kembali dengan cara itu lagi untuk bertahan hidup (tanpa bantuan barang-barang dari Barat)."



Henry Kissinger, Menteri Luar Negeri AS, terus mengunjungi Raja Faisal dan cuba memujuknya untuk menarik keputusannya itu.



Akan tetapi Raja Faisal hanya berkata dengan wajah penuh kebencian, "Hancurlah ISRAEL!"



Henry Kissinger cuba melontarkan sebuah lelucon untuk menghibur sang Raja.



"Pesawat saya kehabisan minyak, berkenankah yang mulia memerintahkan orang agar mengisinya dengan minyak kembali? Dan kami bersedia membayarnya dengan kadar antarabangsa. "



Namun Sang Raja tak tertawa sedikitpun. Ia memandang Kissinger sambil berkata.



"Dan aku hanyalah seorang lelaki tua yang menginginkan untuk dapat solat dua rakaat di Masjid Al Aqsa sebelum aku mati; maka maukah engkau (Amerika) mengabulkan permintaanku ini? "




Gambar di atas kelihatan fasih menggambarkan sikap Raja Faisal yang tak suka Kissinger dan Kissinger yang berusaha menarik hati Sang Raja.

Comments

Popular posts from this blog

Sabar Tidak Hanya Berdiam Diri

SABAR adalah kata yang sangat sering kita dengar. Ketika teman kita ditimpa musibah, yang kali pertama dikatakan adalah kata "sabar". Kerana Allah berjanji bahawa orang-orang yang senantiasa sabar sesungguhnya akan mendapatkan kebahagiaan.
Namun, banyak orang yang menyalah ertikan kata sabar ini. Menurut sebahagian orang sabar adalah diam dengan ujian yang sedang dihadapi. Berpasrah kepada Allah tanpa berbuat apa-apa.
Semestinya kita faham bahawa intipati dari sabar itu sendiri bukanlah hanya diam atas apa yang menimpa kita. Bukankah Allah telah menjelaskan bahawa Dia hanya akan merubah suatu kaum apabila kaum itu merubah nasibnya sendiri. Termasuk ketika kita mendapat masalah.
Pasrah memanglah perlu, tapi pasrah yang seperti apakah itu? Iaitu pasrah kepada Allah beriringan dengan usaha maksimum kita kepada Allah.
Beberapa pamaham yang salah bahawa diam itu hanya sekadar berdiam diri tanpa ada perkara yang dilakukan. Sepatutnya kita tahu bahawa sedar bukan hanya berdiam diri men…

SEORANG ANAK MENJUAL RUMAHNYA DEMI MELANGSAIKAN HUTANG AYAH

Hampir semua cerita tentang orang Arab, khususnya Arab Saudi, yang sampai kepada kita adalah mengenai hal-hal negatif. Perkataan "Puncak", "malas", "kasar", "perang" adalah sesuatu yang dijaja di benak kita. Sehingga ketika mendengar kata "Arab" rakam memori kita langsung menalar hal-hal buruk. Sampai kita pun rasa-rasanya tak rela Islam itu dari Arab.
Berikut ini, ada kisah dari Arab yang berbeza dari yang biasa kita dengar. Tentang bagaimana berbaktinya seorang anak kepada orang tua. Dan tentang seorang pemberi hutang yang dermawan.
Seorang laki-laki asal Arab Saudi memberikan teladan jempolan, bagaimana menjadi seorang anak yang berbakti. Ia membayar hutang bapanya yang berjumlah 1 juta Real Arab Saudi (lebih daripada 3.5 bilion Rupiah). Untuk menjelaskan hutang ini, sang anak harus menjual rumah yang ia miliki terlebih dahulu.
Sampai akhirnya, orang yang memberi hutang tahu bagaimana hutang itu dibayar. Ia merasa sangat tersentuh deng…

Doakan Keburukan untuk Orang lain, dimakbulkan?

BAGAIMANA seharusnya kita bersikap ketika ada saudara kita mendoakan keburukan secara terang-terangan di hadapan kita? Bukankah doa itu akan tercatat? Lalu bagaimana dengan seseorang yang mendoakan keburukan untuk orang lain, adakah akan dimakbulkan?
Pertama, tidak semua doa buruk yang diucapkan manusia, akan dikabulkan Allah.
Allah berfirman,
"Manusia berdoa untuk keburukan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa, "(QS. Al-Isra: 11).
Ayat ini semisal dengan firman Allah dalam ayat lain,
"Kalau sekiranya Allah menyegerakan doa keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka ..." (QS. Yunus: 11).
Para ahli Tafisr, diantaranya Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dan yang lain mengatakan,
Bahawa ini doa buruk seseorang untuk dirinya, atau anaknya, ketika dia marah, yang sebenarnya dia sendiri tidak menyukai ketika doa itu dikabulkan. Andai Allah mengabulkan doa keburukan itu, a…